SELAMAT HARI IBU

*SELAMAT HARI IBU*

*1. Definisi ibu.*
( وَ ) ضَابِطُ الْأُمِّ هُوَ ( كُلُّ مَنْ وَلَدَتْكَ ) فَهِيَ أُمُّك حَقِيقَةً ( أَوْ وَلَدَتْ مَنْ وَلَدَكَ ) ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى ، كَأُمِّ الْأَبِ وَإِنْ عَلَتْ وَأُمُّ الْأُمِّ كَذَلِكَ ( فَهِيَ أُمُّكَ ) مَجَازًا ، وَإِنْ شِئْتَ قُلْتَ: كُلُّ أُنْثَى يَنْتَهِي إِلَيْهَا نَسَبُكَ بِوَاسِطَةٍ أَوْ بِغَيْرِهَا ، وَهَذَا تَفْسِيرُ الْأُمَّهَاتِ بِالنَّسَبِ (مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج )
“Ibu adalah setiap wanita yang melahirkan kamu. Dia adalah ibumu secara hakiki. Atau wanita yang melahirkan orang yang melahirkan kamu, baik laki-laki atau wanita seperti ibunya bapak walaupun seatasnya dan ibunya ibu demikian pula walaupun seatasnya. Dia adalah ibumu secara majazi. Jika kamu menghendaki, maka kamu bisa berkata (dalam definisi ibu): Setiap wanita yang nasabmu berujung padanya dengan perantaraan atau tidak. Ini adalah tafsir beberapa ibu”

*2. Berbakti pada dua orang tua adalah wajib*, namun berbakti pada ibu didahulukan dari pada berbakti pada bapak berdasarkan hadits : 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: { جَاءَ رَجُلٌ إلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:  يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي ؟ قَالَ: أُمُّكَ ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ: أُمُّكَ ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ: أُمُّكَ ، قَالَ ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ أَبُوكَ }. (رواه البخاري و مسلم)
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata: seorang laki-laki datang pada Rasulullah saw. kemudian bertanya: Wahai Rasulullah siapa paling berhak manusia dengan kebaikan pergaulanku? Rasulullah menjawab: Ibumu. Laki-laki itu bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah menjawab: Ibumu. Laki-laki itu bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah menjawab: Ibumu. Laki-laki itu bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah menjawab: Bapakmu” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
وفي رواية : يَا رَسُول الله ، مَنْ أَحَقُّ بحُسْنِ الصُّحْبَةِ ؟ قَالَ : ( أُمُّكَ ، ثُمَّ أُمُّكَ ، ثُمَّ أُمُّكَ ، ثُمَّ أَبَاكَ ، ثُمَّ أدْنَاكَ أدْنَاكَ ) أَيْ الْأَقْرَب إِلَيْك نَسَبًا وَسَبَبًا .
“Dalam riwayat lain: Kemudian orang yang lebih dekat padamu dalam segi nasab dan sebab”

*3. Faktor kelebihan ibu.*
فَفِي الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَحَبَّةَ الْأُمِّ وَالشَّفَقَةَ عَلَيْهَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ ثَلَاثَةَ أَمْثَالِ الْأَبِ لِذِكْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأُمَّ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَذِكْرِ الْأَبِ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالسِّرُّ فِي ذَلِكَ كَمَا قَالَهُ ابْنُ بَطَّالٍ أَنَّ الْأُمَّ تَنْفَرِدُ عَنْ الْأَبِ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ صُعُوبَةُ الْحَمْلِ ، وَصُعُوبَةُ الْوَضْعِ ، وَصُعُوبَةُ الرَّضَاعِ ، فَهَذِهِ تَنْفَرِدُ بِهَا الْأُمُّ وَتَشْقَى بِهَا ثُمَّ تُشَارِكُ الْأَبَ فِي التَّرْبِيَةِ .
“Cinta dan sayang pada ibu seharusnya tiga kali lipat cinta dan sayang pada bapak berdasarkan penyebutan Rasulullah saw. pada ibu tiga kali dan menyebutkan bapak satu kali. Rahasia hal tersebut menurut Syaikh Ibnu Batththal bahwa ibu memiliki jasa tersendiri dari bapak dengan tiga jasa: (1) kesulitan mengandung, (2) kesulitan melahirkan dan (3) kesulitan menyusui. Tiga hal ini ibu melakukan sendiri dan mengalami kesulitan dengannya, kemudian ibu menyamai bapak dalam segi tarbiyah (merawat/mendidik anak)”

*4. Urutan mendahulukan amal sholih berbuat baik.*
1) Ibu.
2) Bapak.
3) Anak.
4) Kakek.
5) Nenek.
6) Saudara laki-laki dan saudara perempuan.
7) Kerabat dzawil arham yang mahram. Seperti paman dan bibi dari ayah dan paman dan bibi dari ibu. Kerabat yang lebih dekat didahulukan, kemudian kerabat yang lebih dekat selanjutnya. Kerabat yang memiliki hubungan seayah dan ibu didahulukan atas kerabat yang memiliki hubungan dengan salah satu ayah dan ibu. Ulama’ menyamakan suami dan istri dengan kerabat yang mahram.
8) Kerabat dzawil arham yang bukan mahram. Seperti anak laki-laki dan anak perempuan paman dari ayah, anak paman dan bibi dari ibu dan kerabat lainnya.
9) Kerabat sebab mushaharah (hubungan kerabat sebab pernikahan/mertua).
10) Sayyid yang memerdekakan.
11) Tetangga. Namun kerabat yang jauh rumahnya didahulukan atas tetangga. Demikian pula jika kerabat yang berada di daerah lain didahulukan atas tetangga yang ajnabi (bukan kerabat). Ulama’ menyamakan suami dan istri dengan kerabat yang mahram.
شرح النووي على مسلم - (ج 8 / ص 331      ( قَالَ أَصْحَابنَا : يُسْتَحَبّ أَنْ تُقَدَّم فِي الْبِرّ الْأُمّ ، ثُمَّ الْأَب ، ثُمَّ الْأَوْلَاد ، ثُمَّ الْأَجْدَاد وَالْجَدَّات ، ثُمَّ الْإِخْوَة وَالْأَخَوَات ، ثُمَّ سَائِر الْمَحَارِم مِنْ ذَوِي الْأَرْحَام كَالْأَعْمَامِ وَالْعَمَّات ، وَالْأَخْوَال وَالْخَالَات ، وَيُقَدَّم الْأَقْرَب فَالْأَقْرَب ، وَيُقَدَّم مَنْ أَدْلَى بِأَبَوَيْنِ عَلَى مَنْ أَدْلَى بِأَحَدِهِمَا ، ثُمَّ بِذِي الرَّحِم غَيْر الْمَحْرَم كَابْنِ الْعَمّ وَبِنْته ، وَأَوْلَاد الْأَخْوَال وَالْخَالَات وَغَيْرهمْ ، ثُمَّ بِالْمُصَاهَرَةِ ، ثُمَّ بِالْمَوْلَى مِنْ أَعْلَى وَأَسْفَل ، ثُمَّ الْجَار ، وَيُقَدَّم الْقَرِيب الْبَعِيد الدَّار عَلَى الْجَار ، وَكَذَا لَوْ كَانَ الْقَرِيب فِي بَلَد آخَر قُدِّمَ عَلَى الْجَار الْأَجْنَبِيّ ، وَأَلْحَقُوا الزَّوْج وَالزَّوْجَة بِالْمَحَارِمِ وَاَللَّه أَعْلَم .

Komentar

Postingan Populer