HUKUM MENUNAIKAN HAJI BADAL (ISTINABAH) DARI ORANG LAIN SECARA AKAD IJAROH/PERSEWAAN
*HUKUM MENUNAIKAN HAJI BADAL (ISTINABAH) DARI ORANG LAIN SECARA AKAD IJAROH/PERSEWAAN*
1) Badal haji dari orang yang sudah mati:
a. Bila maninggalkan tirkah (harta warisan) maka diperinci :
*a) Haji wajib (hijjatul islam)*: orang yang menerima wasiat, ahli waris kemudian hakim wajib melakukan badal haji wajib bila tirkah itu cukup untuk biaya haji amanah dengan ongkos yang disetujui oleh ajir alim (orang yang disewa untuk haji yang alim manasik haji) berupa ongkos umum atau sebawahnya setelah dikurangi biaya:
i. *Hutang* yang berhubungan dengan ‘ainut tirkah.
ii. *Biaya merawat janazah (tajhiz).*
Bila mayit tidak menentukan di masa hidupnya harta kusus untuk menunaikan haji amanah, maka orang yang menjadi washiy minta izin pada ahli waris untuk penentuan harta sebagai ongkos haji amanah, bila ahli waris tidak ada atau sedang bepergian jauh maka ditentukan oleh hakim.
*Tanbih*: Haji wajib (hijjatul islam) atas mayit harus didahulukan dari pada semua hutang anak adam yang dilepaskan dalam tanggungan, seandainya seorang yang sudah istitho’ah/mampu meninggal dunia dan meninggalkan harta pusaka (tirkah) sebanyak 100 boxs harta benda berharga, maka tidak boleh menyerahkan sedikitpun dari harta itu kepada pemberi hutang (ad-dain: orang yang berpiutang), orang yang menerima wasiat (musho lah) dan ahli waris sampai menyewa orang alim badal haji amanah yang menunaikan haji, umroh, bertahallul dengan 2 tahallul dan menyempurnakan semua rukun umrohnya.
*b) Haji sunah:*
i. Bila mayit berwasiat maka haji sunnah dihitung (diambilkan) dari sepertiga harta tirkah.
ii. Bila mayit tidak berwasiat, maka tidak sah melakukan haji amanah darinya.
b. Bila tidak meninggalkan tirkah maka tidak wajib bagi siapapun melakukan haji amnah dari mayit tapi bagi ahli waris dan orang lain walaupun tidak mendapat izin dari ahli waris dan tidak mendapat wasiat dari mayit boleh melakukan badal haji.
2) Badal haji dari orang yang ma’dlub/lemah badan /lumpuh yang telah istitho’ah/mampu:
a. Haji wajib : wajib mencari badal haji.
b. Haji sunnah terjadi khilaf ulama’:
a) Tidak boleh dibadali haji sunnah menurut Imam Al-Jamal Ar-Romli.
b) Boleh dibadali haji sunnah bila ma’dlub memberikan izin menurut Imam Ibnu Hajar. (Ktb. Fathul Qodir Syaikh Al-Kurdi Mathba’ah Al-Islah Jedah hal 2)
Komentar
Posting Komentar