HISBAH (AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR)
*HISBAH (AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR)*
*1. Definisi hisbah*
الحسبة : فعل الشيء حسبة أي لم يأخذ عليه أجرا مبتغيا الثواب من الله
Hisbah adalah melakukan sesuatu atas dasar hisbah (tidak mengambil gaji karena mencari pahala dari Allah)
الأمر بالمعروف إذا ظهر تركه ، والنهي عن المنكر إذا ظهر فعله .
Hisbah adalah memerintahkan ma’ruf (kebaikan) jika tampak perbuatan meninggalkannya dan melarang mungkar jika tampak perbuatan melakukannya.
*2. Definisi muhtasib*
المحتسب: بضم الميم وكسر السين اسم فاعل من احتسب احتسابا إذا طلب بعمله ثواب الله يوم الحساب.
Muhtasib swasta adalah seseorang yang melakukan aktifitas ihtisab. Apabila ia mencari dengan aktifitasnya pada pahala Allah di hari pembalasan.
من يقوم بعمل الحسبة : من ولاه السلطان لينكر المنكر إذا ظهر فعله، ويأمر بالمعروف إذا ظهر تركه
Muhtasib Negeri adalah seseorang yang menunaikan kegiatan hisbah. Seseorang yang dilantik oleh sulthon (pejabat pemerintah) untuk mengingkari mungkar jika tampak perbuatan mungkar dan memerintahkan ma’ruf (kebaikan) jika tampak penelantaran ma’ruf.
(The Islamic inspector of the market or administrative supervisor, disciplinary control)
*3. Hukum dan rukun hisbah*
بغية المسترشدين : (مسألة : ج) : ونحوه ي : الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر قطب الدين ، فمن قام به من أيّ المسلمين وجب على غيره إعانته ونصرته ،
Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah ajaran pokok agama Islam. Barang siapa menunaikannya dari kaum muslimin, maka wajib atas orang lain menolong dan membantunya.
ولا يجوز لأحد التقاعد عن ذلك والتغافل عنه وإن علم أنه لا يفيد ،
Tidak boleh (haram) bagi seorang muslim duduk-duduk manis (taqa’ud) meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar tersebut dan pura-pura lupa (taghaful) dari hal tersebut walaupun ia mengetahui bahwa hal tersebut tidak berfaedah (belum berhasil).
وله أركان : الأوّل المحتسب وشرطه الإسلام والتمييز ، ويشترط لوجوبه التكليف ، فيشمل الحر والعبد ، والغني والفقير ، والقوي والضعيف ، والدنيء والشريف ، والكبير والصغير ،
Amar ma’ruf dan nahi mungkar memiliki beberapa rukun. Rukun pertama adalah muhtasib (orang yang hisbah). Adapun syaratnya adalah Islam dan tamyiz (bersifat faham, mbeneh). Disyaratkan taklif untuk hukum wajib amar ma’ruf dan nahi mungkar. Oleh karena itu mencakup orang merdeka, budak, orang kaya, fakir/miskin, orang kuat, orang lemah, orang mulia, orang jelata, orang dewasa dan anak kecil.
ولم ينقل عن أحد أن الصغير لا ينكر على الكبير وأنه إساءة أدب معه ، بل ذلك عادة أهل الكتاب ، نعم شرط قوم كونه عدلاً ، ورده آخرون ، وفصل بعضهم بين أن يعلم قبول كلامه أو تكون الحسبة باليد فيلزمه وإلا فلا وهو الحق ،
Tidak ada nuqilan (kutipan) dari seorang ulama’ bahwa anak kecil tidak boleh nahi mungkar pada orang dewasa dan hal tersebut tergolong isa-atul adab (su-ul adab/tidak sopan) pada orang dewasa. Bahkan hal tersebut adalah budaya ahli kitab. Betul demikian para ulama’ yang lain membuat syarat muhtasib itu orang adil. Ulama’ yang lain menolak pendapat tersebut. Sebagian ulama’ yang lain memerinci antara muhtasib yang mengetahui tutur katanya bisa diterima (oleh orang yang dihisbahi) atau hisbahnya itu dengan yad (tangan), maka ia wajib malakukannya. Jika tidak demikian, maka tidak wajib. Ini pendapat yang benar.
ولا يشترط إذن السلطان.
Amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak disyaratkan mendapat izin dari sulthon (pejabat negara)
الثاني : ما فيه الحسبة وهو كل منكر ولو صغيرة مشاهد في الحال الحاضر ، ظاهر للمحتسب بغير تجسس معلوم ، كونه منكراً عند فاعله ،
Rukun kedua sesuatu yang mengandung hisbah. Yaitu:
a. Setiap mungkar walaupun dosa kecil yang dilihat dalam seketika yang sedang berlangsung.
b. Tampak bagi seorang muhtasib dengan tanpa tajassus (mengoreksi kemungkaran orang lain) yang telah diketahui.
c. Kemungkaran itu memang mungkar bagi pelakunya.
فلا حسبة للآحاد في معصية انقضت ، نعم يجوز لمن علم بقرينة الحال أنه عازم على المعصية وعظه ،
ولا يجوز التجسس إلا إن ظهرت المعصية ، كأصوات المزامير من وراء الحيطان ، ولا لشافعي على حنفي في شربه النبيذ ، ولا لحنفي على شافعي في أكل الضب مثلاً.
Oleh karena itu tidak boleh hisbah bagi para individu muslim dalam maksiat yang telah selesei. Betul demikian boleh memberikan nasehat bagi seseorang yang mengetahui dengan qarinah hal (indikasi kondisi) bahwa seseorang berencana pada maksiat.
الثالث : المحتسب عليه ويكفي في ذلك كونه إنساناً ولو صبياً ومجنوناً.
Rukun ketiga adalah muhtasab ilaih (orang lain yang dihisbahi). Cukup dalam hal tersebut status muhtasab ilaih adalah manusia walaupun anak kecil dan orang gila.
الرابع : نفس الاحتساب وله درجات : التعريف ، ثم الوعظ بالكلام اللطيف ، ثم السب والتعنيف ، ثم المنع بالقهر ، والأولان يعمان سائر المسلمين ، والأخيران مخصوصان بولاة الأمور ،
Rukun keempat adalah hakikat ihtisab (hisbah) dan baginya memiliki beberapa derajat (tingkatan/level). Yaitu:
1) Ta’rif (pemberitahuan). Tingkatan ini bersifat umum bagi kaum muslimin.
2) Nasehat dengan perkataan yang lemah lembut. Tingkatan ini bersifat umum bagi kaum muslimin.
3) Mencaci maki dan sikap keras. Tingkatan ini bersifat kusus bagi para pejabat negara.
4) Melarang secara paksa. Tingkatan ini bersifat kusus bagi para pejabat negara.
Komentar
Posting Komentar