PENYEBAB ANAK ULAMA TIDAK BISA MENCAPAI KEDUDUKAN ULAMA

PENYEBAB ANAK ULAMA TIDAK BISA MENCAPAI KEDUDUKAN ULAMA

وسمعتُ سيِّدِيْ عليًا الخواصَ رحمه اللّٰه تعالی يقولُ: إنما كان الغالبُ علی أولادِ الفقراءِ عدمَ بلوغِ مراتبِ الرجالِ في الطريقِ، لأن أحدَهم يتربی علی الدلال، وإكرامِ الناسِ لهم، فيرَی جميعَ أصحابِ والدِه يُقَبِّلُون يدَه، ويحملونَه علی أكتافِهم، ويُطِيعُونه في كلِّ ما يطلُب منهم إكرامًا لوالدِه، فتكبَّر نفسُ أحدِهم، ويرضَع من ثدْيِ الرِّياسَةِ من صِغَرِه، وتتوالی عليه تلك الأحوالُ المُظلمةُ لقلبِه، حتی يصيرَ لا تُٶَثِّر فيه المواعظُ، ولا يسمع من أكابرِ جَماعةِ والدِه نُصحًا، ويتجَرَّأُ بسوءِ الأدَبِ علی الأكابرِ، ويروي المشيخةَ كالمِيراثِ، فيعيشُ في حسِّ والدِه لا يكتسبُ فضيلةً كما هو مشاهَدٌ، وهذه هي القاعدةُ الأغْلَبيَّةُ في أولادِ الفقراءِ.

Saya mendengar Tuan guruku, ‘Ali al-Khawas Ra berkata: "Hal yang umum terjadi pada anak-anak tokoh sufi yaitu tidak sampai memiliki derajat ketokohan dalam dunia tarekat. Hal itu disebabkan karena ia (anak tersebut) terbiasa hidup manja, terbiasa dimuliakan orang-orang. Sejak kecil, mereka menyaksikan santri-santri ayahnya mencium tangannya, menggendongnya di atas pundak mereka dan menuruti semua kemauannya karena memuliakan orang tuanya. Keadaan itu lantas membuat anak ulama tersebut menjadi sombong dan jumawa. Sejak kecil, mereka menyusu dari tingginya pangkat dan jabatan. Ia dikuasai oleh perilaku-perilaku yang membuat hatinya gelap gulita. Sehingga tidak menerima arahan dan tidak mau mendengarkan nasehat dari santri senior ayahnya, bahkan mereka dengan buruknya adab berperilaku lancang kepada orang-orang yang lebih tua. Ia menganggap ketokohan atau keulamaan itu seperti warisan (yang dapat diwariskan), sehingga sampai kapan pun mereka akan hidup di bawah ketiak ayah mereka dan tidak bisa mendapat kemuliaan dengan upaya mereka sendiri. Inilah kaidah umum tentang penyebab kenapa anak ulama gagal meniru keilmuan dan perilaku ayah mereka.
Wallahu a'lam bisshawab.

Sumber: Al-Minan al-Kubra atau Lathaif al-Minan wa al-Akhlaq fi Wujub al-Tahadduts bi Ni'mah Allah ala al-Ithlaq karya al-Imam al-Allamah Abd. al-Wahhab bin Ahmad bin Ali al-Sya’rani, 898-973 H/ 1493-1565 M, hal. 513.

Komentar

Postingan Populer