IKRAR DUA KALIMAH SYAHADAT BAGI ORANG KAFIR

*IKRAR DUA KALIMAH SYAHADAT BAGI ORANG KAFIR*

*أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ*

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang wajib disembah secara haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu rasulullah”

*1. Iman* adalah tashdiq qolbiyyi secara syara’, yaitu membenarkan Nabi Muhammad dalam hati dalam semua ajaran yang dibawanya dan ajaran itu telah diketahui dari dalil-dalil agama dengan pasti.
*2. Islam* adalah ikrar secara lisan dengan mengucapkan dua kalimah syahadat dan tunduk pada semua ajaran Nabi Muhammad dari semua ajaran yang telah diketahui dalil dalil-dalil agama dengan pasti. (Tuhfatul Murid hal. 57)
*3. Ikrar dengan mengucapkan dua kalimah syahadat* bagi orang kafir asli terdapat khilaf ulama:
a. Pendapat mu’tamad: ikrar dua kalimah syahadat itu syarat untuk memberlakukan beberapa hukum duniawi, seperti: (1) saling mewaris, (2) saling menikahi, (3) sholat berjama’ah dengannya, (4) sholat pada janazahnya, (5) menguburnya di kuburan muslimin, (6) dituntut dengan semua sholat wajib, semua macam zakat dll.
b. Pendapat dloif pertama: ikrar dua kalimah syahadat itu syarat untuk keabsahan iman.
c. Pendapat dloif kedua: ikrar dua kalimah syahadat itu separo dari iman.
*4. Syarat ikrar dua kalimah syahadat* bagi orang kafir yang mampu mengucapkannya menurut Madzhab Imam Syafi’i adalah:
a. Wajib menggunakan lafadh “Asyhadu” karena mengandung makna ta’abbud (menjalankan ibadah).
b. Wajib mengulangi lafadh “Asyhadu”.
c. Tidak wajib menggunakan huruf athaf (kata sambung) “Wawu”.
d. Wajib tartib dua kalimat syahadat.
e. Wajib mu’walah (sambung-menyambung) dua kalimah syahadat.
f. Wajib mengakui bahwa Nabi Muhammad itu rasul bagi selain orang Arab juga bagi orang kafir yang meyakini bahwa Nabi Muhammad itu kerasulannya kusus bagi orang Arab saja seperti Golongan ‘Isawiyyah (kaum pengikut madzhab Abu Isa Ishaq bin Ya’qub Al-Ashfihani).
g. Wajib mencabut kepercayaan alam itu bersifat qidam (dahulu) bagi orang kafir yang mempercayainya.
h. Boleh ikrar dua kalimah syahadat dengan bahasa ‘ajam (selain Arab), walaupun mampu berbahasa Arab.
5. Imam Ibnu ‘Arofah dari golongan ulama’ Malikiyyah berpendapat seperti pendapat madzhab Imam Syafi’i. Beliau berkata: Wajib mengucapkan kalimah: 
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّه
6. Syaikh Al-Ubay guru Imam Ibnu ‘Arofah berpendapat: Syarat tersebut di atas itu bukan keharusan tapi telah mencukupi setiap kalimat yang menujukkan pada iman, seperti kalimat: “Allahu Wahidun Wa Muhammadun Rosuulun”. Pendapat ini sama dengan pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi dari golongan ulama’ Syafi’iyyah. (Referensi Kitab Tuhfatul Murid hal. 54 dan Ianatut Tholibin)
7. Sah membaca dua kalimah syahadat dengan cara *isyarat bagi orang kafir yang bisu.*
8. Kafir ajam (selain Arab) wajib mengerti makna dua kalimah syahadat dengan cara *membaca arti dua kalimah syahadat.*
تحفة المحتاج في شرح المنهاج  - ( قَوْلُهُ : وَلَوْ بِالْعَجَمِيَّةِ ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي يَصِحُّ الْإِسْلَامُ بِسَائِرِ اللُّغَاتِ كَمَا قَالَهُ ابْنُ الصَّبَّاغِ وَغَيْرُهُ وَبِإِشَارَةِ الْأَخْرَسِ نَعَمْ لَوْ لُقِّنَ الْعَجَمِيُّ الْكَلِمَةَ الْعَرَبِيَّةَ فَقَالَهَا وَلَمْ يَعْرِفْ مَعْنَاهَا لَمْ يَكْفِ ا هـ . 
“Sah Islam dengan membaca dua kalimah syahadat menggunakan bahasa-bahasa lain selain bahasa Arab dan dengan isyarat bagi orang kafir tuna wicara. Apabila orang ajam (selain orang Arab) ditalqin (diajari) dua kalimah syahadat berbahasa Arab, namun ia tidak mengerti maknanya, maka tidak cukup Islamnya” (Tuhfatul Mujtaj)

Komentar

Postingan Populer