*ZAKAT PERDAGANGAN ATAU TIJAROH*

*ZAKAT PERDAGANGAN ATAU TIJAROH*

*1. DALIL ZAKAT TIJAROH*
عَنْ سَمُرَةَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنَ الَّذِي نُعِدُّهُ لِلْبَيْعِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ 
“Nabi Muhammad saw. memerintahkan pada kita untuk mengeluarkan sedekah wajib (zakat) dari harta yang kita persiapkan untuk berdagang” (HR. Abu Dawud)
*2. DEFINISI PERDAGANGAN* (TIJAROH) adalah mengolah (taqlib) dalam harta yang dimiliki dengan sistem tukar menukar (mu’awadloh) karena tujuan laba (ribhu) bersamaan niat berdagang ketika tiap-tiap pembelanjaan di permulaan. (Al-Bajuri juz 1 hal. 266)

*3. SYARAT WAJIB ZAKAT PERDAGANGAN SAMA DENGAN SYARAT WAJIB ZAKAT EMAS DAN PERAK*
a. Islam.
b. Merdeka (bukan budak).
c. Hak milik yang sempurna.
1) Walaupun milik orang yang mahjur ‘alaih seperti anak kecil atau orang gila, maka yang membayarkan adalah walinya bila bermadzhab Imam Syaf’i’i yang mewajibkan zakat dalam harta mahjur ‘alaih. 
2) Wajib zakat dalam harta yang digosob, harta yang diingkari, harta yang hilang, harta yang jauh (ghoib) walaupun sulit mengambilnya, hutang yang lazim berupa emas, perak atau harta perdagangan dan harta yang dimiliki dengan akad  sebelum diterima karena torgolong hak milik yang sempurna, namun wajib mengeluarkan zakatnya ketika sudah mampu mengambilnya.
3) Harta budak mukatab tidak wajib zakat karena hak milik yang lemah (dloif).  (Al-Bajuri juz 1 hal. 262)
d. Nishob. Yaitu: sama dengan nishob emas atau perak.
e. Haul (setahun).

*4. SYARAT-SYARAT HARTA PERDAGANGAN (‘URUDL TIJAROH) YANG WAJIB DIZAKATI*
a. Perdagangan dengan memakai harta perdagangan (‘urudl tijaroh), bukan emas atau perak. Apabila perdagangan emas atau perak maka wajib zakat emas atau perak sesuai syaratnya.  Harta perdagangan (‘ardlu atau ‘urudl tijaroh) adalah nama semua harta yang membandingi pada emas dan perak (naqdu, nuqud) dari berbagai macam harta. (Bughyah Mustarsyidin dan Al-Bajuri juz 1 hal. 266)
b. Niat berdagang ketika akad atau di tempat akad. Karenanya tidak wajib zakat bila berniat menyimpan harta (qunyah atau iddikhor).
c. Posisi niat bersamaan dengan menerima hak milik atau pembelian (belanja). Jikalau berbelanja dengan niat menyimpan barang, kemudian setelah itu berniat dagang,  maka haul dimulai sejak pelaksanaan perdagangan.
d. Harta perdagangan dimiliki secara tukar-menukar (mu’awadloh). Tidak wajib zakat dalam harta yang dimiliki secara warisan, hibah atau hasil usaha kecuali menjadikannya sebagai harta perdagangan yang disertai niat tijaroh.
e. Nilai harta perdagangan mencapai nishob dengan standart nishob emas atau perak. Nishob emas 24 karat adalah 77,58 gram dan nishob perak murni adalah 543,06 gram. Bila belum mencapai nishob, maka dimulai haul yang baru.
f. Mencapai haul atau genap satu tahun Hijriyah.
1) Apabila harta perdagangan dimiliki dengan alat tukar yang berupa emas atau perak (nuqud) yang jumlahnya mencapai nishob, maka awal tahun dimulai sejak memiliki emas atau perak.
2) Apabila harta perdagangan dimiliki dengan alat tukar selain emas atau perak semisal dengan modal uang Rupiah atau  dimiliki dengan alat tukar emas atau perak yang tidak mencapai nishob, maka awal tahun dimulai sejak memiliki harta perdagangan.
g. Tidak bertujuan menyimpan barang (qun-yah) dipertengahan tahun. Jika bertujuan menyimpan seperti membekukan barang perdagangan untuk dipakai sendiri (isti’mal), maka haul terputus.
h. Harta perdagangan tidak ditukar dengan emas atau perak.
1) Apabila semua harta perdagangan ditukar dengan alat tukar pertama, baik berupa emas atau perak, maka hitungan haul yang dimulai sebelum menjadi batal dan haul dimulai lagi ketika memiliki harta perdagangan lagi dengan niat tijaroh.
2) Kecuali bila emas atau perak yang menjadi alat tukar pertama dan yang dibeli di pertengahan tahun jumlahnya tetap satu nishob, maka haul tetap terhitung dari waktu sebelumnya.
3) Jika sebagian harta perdagangan ditukar dengan emas atau perak atau ditukarkan dengan selain alat tukar pertama, maka haul tidak putus. (Hasyiah Syarqowi)

*5. BARANG PERDAGANGAN YANG MASUK DALAM PERHITUNGAN NISHOB*
a. Semua harta dagangan yang masih tersisa tanpa kecuali, dikalkulasi (taqwim) dengan harga jual kontan dan  umum yang berlaku pada saat wajib mengeluarkan zakat atau akhir tahun.  Ketertiban administrasi dan kevalidan akutansi sangat membantu dalam kalkulasi harta niaga. (Hawasyi As-Syarwani juz 3 hal. 330 dan Bughyah hal. 100)
b. Laba atau keuntungan.
c. Harta perdagangan atau uang perdagangan yang dipinjam orang lain yang sudah jatuh tempo pelunasan dan peminjam dalam kondisi mampu melunasi. Jika belum jatuh tempo pelunasan atau kondisi peminjam belum mampu melunasi, maka tidak ikut dikalkulasi, tapi bila harta atau uang tersebut sudah dikembalikan. maka dizakati sendiri.
d. Segala benda yang dibeli dengan harta perdangan yang mana benda pembelian tersebut masih dipergunakan untuk perdagangan.
e. Hutang pedagang dalam memperoleh barang dagangan di saat haul tidak mempengaruhi kalkulasi nishob dan zakat tijaroh. Karenanya jika nilei harta perdagangan di akhir tahun telah mencapai nishob dan memenuhi syarat wajib zakat,  maka tetap wajib dizakati, walaupun jika seandainya sebagian barang digunakan untuk melunasi hutang, maka sisanya tidak mencapai nishob (Referensi Kifayatul Akhyar)
f. Kadar zakat perdagangan adalah 2,5 % (rub’u ‘usyur) dari nilai (qimah) bukan dari harta perdagangan. 

*6. CONTOH PERHITUNGAN ZAKAT TIJAROH*
Zaid membuka usaha perdangan Mini Market pada tanggal 1 Muharram dengan modal Rp. 50.000.000,-  dan saat akhir tahun tanggal 30 Dzul Hijjah kalkulasi harta perdagangan (taqwim) sbb.:
a. Jumlah nilai stok harta perdagangan yang tersisa  = Rp. 70.000.000,-
b. Laba satu tahun  = Rp. 30.000.000,-
c. Harta perdagangan yang dihutang (piutang) yang telah jatuh tempo  = Rp.     500.000,-
d. JUMLAH TOTAL HARTA PERDAGANGAN = Rp. 100.500.000,- 
e. Harga 1 gram emas murni  : Rp. 997.000,- x nishob emas 77,58 = Rp. 77.347.260,-
f. Nishob tijaroh di akhir tahun           : Rp. 77.347.260,-
g. Kadar zakat tijaroh 2,5 %                 : Rp. 100.500.000,- x 2,5 % = Rp. 2.512.500,-
h. JUMLAH ZAKAT TIJAROH  = Rp. 2.512.500,-   

Malang, 12 April 2022
Abdul Qahhar bin Hasan Rahmat bin Ibrahim

Komentar

Postingan Populer