*SHOLAT SUNNAH WITIR (SHOLAT ROKA'AT GANJIL)*

*SHOLAT SUNNAH WITIR (SHOLAT ROKA'AT GANJIL)*

1. Hukum sholat witir adalah sunnah dan paling afdlol mengalahkan semua sholat sunnah rowatib. Imam malik berpendapat hukumnya wajib. (Referensi Fathul Alam)
2. Niat sholat witir: “Usholli sunnatal witri” atau “Ushollil witro”. (Al-Bajuri)
a. Rokaat akhir: 
1) “Usholli rok’atan witron” atau 
2) “Usholli rok’atan minal witri”.
أُصَلِّي رَكْعَةً مِنَ الْوِتْرِ (إِمَامًا   \ مَأْمُوْمًا) لِلهِ تَعَالَى
b. Rokaat sebelum rokaat yang akhir: 
1) “Usholli sunnata sholaatil laili”.
2) “Usholli muqoddimatal witri”
3) “Usholli sunnatal witri” ini lebih utama. Atau:
4) “Usholli rok’ataini minal witri”  menurut pendapat ashah.
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج :  وَالْوِتْرُ صَلَاةٌ مُسْتَقِلَّةٌ فَلَا يُضَافُ إلَى الْعِشَاءِ ، فَإِنْ أَوْتَرَ بِوَاحِدَةٍ أَوْ بِأَكْثَرَ وَوَصَلَ نَوَى الْوِتْرَ ، وَإِنْ فَصَلَ نَوَى بِالْوَاحِدَةِ الْوِتْرَ ، وَيَتَخَيَّرُ فِي غَيْرِهَا بَيْنَ نِيَّةِ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَمُقَدِّمَةِ الْوِتْرِ وَسُنَّتِهِ وَهِيَ أُولَى أَوْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ الْوِتْرِ عَلَى الْأَصَحِّ .
5) Tidak sah niat dengan: “Usholli rok’ataini witron” karena 2 rokaat itu genap bukan ganjil. (Fathul Alam)
3. Jumlah rokaat witir:
a. Minimal: satu rokaat. Namun membatasi dengan 1 rokaat itu hukumnya khilaf awla (bertentangan pada hukum yang lebih utama) dan terus-menerus berwitir 1 rokaat itu makruh. (Fathul Alam)
b. Paling rendah kesempurnaan: 3 rokaat. Pendapat 3 rokaat lebih utama dari pada 5, 7 dan 9 rokaat itu dloif (lemah) atau mardud/ditolak  (Tuhfatul Muhtaj dan Bughyah).
c. Tingkat menengah kesempurnaan: 5, 7 atau 9 rokaat.
d. Maksimal: 11 rokaat. 
e. Tidak sah melebihi 11 rokaat.
4. Sholat witir melebihi 1 rokaat boleh fashol (pisah) dan washol (bersambng):
a. *Fashol* adalah  memisah rokaat yang paling akhir dari rokaat sebelumnya. Contoh: sholat witir 10 rokaat dengan Takbirotul Ihram satu dan 1 rokaat yang akhir dengan Takbirotul Ihram. Fashol lebih utama dari pada washol. Dalam fashol boleh bertasyahud dalam setiap 2 rokaat atau lebih.
b. *Washol* adalah menyambung rokaat yang akhir dengan rokaat sebelumnya. Boleh bertasyahud di rokaat yang akhir saja atau di 2 rokaat yang akhir. Bertasyahuh satu saja lebih utama karena ada larangan menyerupakan witir dengan sholat Maghrib.
1) Washol itu hukumnya khilaf awla dalam sholat witir yang selain 3 rokaat.
2) Washol itu makruh dalam sholat witir 3 rokaat karena ada larangan menyerupakan sholat witir dengan sholat Maghrib dalam Hadits Nabi. (Referensi Ianatut Tholibin)
5. Waktu sholat witir.
Antara sholat Isya’ walaupun dijama’ taqdim dengan sholat Maghrib dan terbit fajar shodiq (tsani).
6. Bacaan surat setelah al-Fatihah dalam witir 3 rokaat:
a. Afdlolnya rokaat pertama membaca surat Sabbihisma Robbikal A’la, Surat Al-Kafirun dalam rokaat kedua dan Al-Ihlas serta  al-Mu’awwidzatain dalam rokaat ketiga.
b. Bila lupa membaca surat Sabbihisma Robbikal A’la dalam rokaat pertama dan Surat Al-Kafirun dalam rokaat kedua, maka tafsil menurut Ibnu Hajar:
1) Apabila sholat witir secara washol, maka 2 surat tersebut disusulkan (tadaruk) dalam rokaat ketiga.
2) Apabila sholat witir secara fashol, maka tidak disusulkan dalam rokaat ketiga. (Ianatut Tholibin)
7. Sholat malam paling akhir. 
a. Sunah menjadikan sholat witir sebagai paling akhir sholat malam. Semisal sholat tahajud dulu, baru sholat witir.
b. Apabila sholat witir dulu, kemudian sholat tahajud, maka tidak sunah mengulangi sholat witir, bahkan tidak sah.
c. Mengakhirkan sholat witir keseluruhan setelah semua macam sholat malam yang berupa sholat sunnah rowatib, Tarowih, qodlo’, naflu (sunnah) mutlak itu lebih utama walaupun tidak setelah tidur. (Busyrol Karim)
8. Sholat witir di awal malam atau akhir malam:
a. Witir di akhir malam: lebih utama bagi seseorang yang percaya diri bisa bangun tidur sendiri atau dibangunkan di akhir malam sebelum fajar. Mengakhirkan semua witir bukan mengakhirkan Tarowih, walaupun kehilangan sholat berjama’ah sholat witir sebab mengakhirkannya di Bulan Romadlon.  Sholat di akhir malam itu disaksikan oleh malaikat (masyhuhah). (Al-Bajuri dan Ianatut Tholibin)
b. Witir di awal malam: lebih utama bagi seseorang yang tidak percaya diri bisa bangun tidur di akhir malam.
9. Sholat witir dan sholat tahajud:
a. Sifat umum: sholat witir dan tahajud berkumpul jadi satu dalam satu sholat setelah tidur dengan niat witir.
b. Sifat kusus: sholat witir bisa berdiri sendiri  dengan sholat sebelum tidur dan sholat tahajud juga bisa mandiri dengan sholat setelah tidur tanpa niat witir. (Ianatut Tholibin) 
10. Sholat witir setelah tidur.
Sholat witir setelah tidur itu menjadi witir dan tahajjud. (AL-Bajuri)
11. Sholat witir sebelum Sholat Isya’:
a. Bila secara sengaja, maka tidak menjadi sholat witir dan selainnya.
b. Bila secara lupa atau bodoh, maka tidak menjadi sholat witir, tapi menjadi sholat sunah mutlak (naflu mutlak).
12. Qodlo’ sholat witir.
a. Sunah mengqodlo’ sholat witir.
b. Bila waktu isyak keluar (habis) tidak boleh qodlo’ sholat sunah rowatib ba’diyah walaupun sholat witir sebelum mengqodlo’ sholat isya’ berbeda pendapat dengan sebagian ulama’. (Ianatut Tholibin)
13.    Niat sholat witir secara mutlak terdapat khilaf ulama’.
a. Menurut Imam Ibnu Hajar diarahkan pada kehendak  orang yang sholat.
b. Menurut ImamAr-Romli diarahkan pada 3 rokaat. (Busyrol Karim)
14.    Nadzar sholat witir secara mutlak.
Wajib 3 rokaat. (Busyrol Karim dan Al-Bajuri)
15. Sholat witir 11 rokaat secara bertahap.
Boleh bagi mushalli yang telah shalat witir 3 rokaat melakukan lagi shalat witir yang tersisa (8 rokaat) karena makna shalat witir adalah shalat yang rokaatnya ganjil, baik rokaat ganjil itu berada di tengah, di depan atau di akhir. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra) 
16. Dzikir dan doa setelah shalat witir.
a. Dzikir pertama:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ (3x) 
(Dibaca 3 kali seraya mengeraskan suara dalam bacaan yang ketiga)
“Maha suci Allah dzat yang memiliki kerajaan lagi maha suci dari sifat kurang dan sifat baru”
b. Dzikir kedua:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ
 “(Allah) itu maha suci lagi maha suci Tuhan para malaikat dan malaikat Jibril”
(Tidak kata “Rabbunaa”/    رَبُّنَا)
c. Dzikir ketiga:
جَلَّلَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ بِالْعَظَمَةِ وَالْجَبَرُوْتِ، وَتَعَزَّزَتْ بِالْقُدْرَةِ، وَقُهِرَتُ الْعِبَادُ بِالْمَوْتِ.
“Beberapa langit dan bumi menjadi agung sebab sifat agung dan sifat kuasa Allah, beberapa langit dan bumi menjadi kuat sebab sifat kuasa Allah dan hamba-hamba dipaksa dengan mati”
d. Keempat adalah doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا.
“Wahai Allah sunnguh aku berlindung dengan ridla-Mu dari amarah-Mu, dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dengan-Mu dari murka-Mu. Aku tidak bisa menghitung pujian pada-Mu sebagaimana Engkau memuji pada dzat-Mu. Wahai Allah sungguh Engkau maha banyak ampunan, maka semoga Engkau mengampuni pada kami”

1. الفتاوى الفقهية الكبرى  - (ج 2 / ص 209): (وَسُئِلَ ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَمَّنْ صَلَّى الْوِتْرَ ثَلَاثًا فَهَلْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ الْبَاقِيَ مِنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ بِنِيَّةِ الْوِتْرِ ؟ (فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ : نَعَمْ لَهُ ذَلِكَ فِيمَا يَظْهَرُ إذْ مَعْنَى كَوْنِهِ وِتْرًا أَنَّ فِيهِ الْوِتْرَ ، وَهُوَ كَذَلِكَ سَوَاءٌ تَوَسَّطَ الْوِتْرُ أَمْ تَقَدَّمَ أَمْ تَأَخَّرَ .
2. تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 7 / ص 288):  لِأَنَّهَا أَغْلَبِيَّةٌ لِتَصْرِيحِهِمْ بِأَنَّ الْعَمَلَ الْقَلِيلَ يَفْضُلُ الْعَمَلَ الْكَثِيرَ فِي صُوَرٍ ، كَالْقَصْرِ أَفْضَلُ مِنْ الْإِتْمَامِ بِشَرْطِهِ ، وَكَالْوِتْرِ بِثَلَاثٍ أَفْضَلُ مِنْهُ بِخَمْسٍ أَوْ سَبْعٍ أَوْ تِسْعٍ عَلَى مَا قَالَهُ الْغَزَالِيُّ لَكِنَّهُ مَرْدُودٌ ،
3. الأشباه والنظائر – شافعي:  الثالثة : الوتر بثلاث أفضل منه بخمس أو سبع أو تسع على ما قاله في البسيط تبعا لشيخه إمام الحرمين و هو ضعيف و المجزوم به في شرح المهذب خلافه و إن كان الأكثر أفضل منه ونقله ابن الرفعة عن الروياني و أبي الطيب  و قال ابن الأستاذ : ينبغي القطع به
1. بغية المسترشدين: وكالوتر بثلاث أفضل منه بخمس أو سبع أو تسع على ما قاله الغزالي وهو مردود ،
Singosari, 6 April 2022
Abdul Qahhar bin Hasan Rahmat bin Ibrahim

Komentar

Postingan Populer