*KETENTUAN KAFAROT ‘UDHMA (DENDA BESAR) MEMBATALKAN PUASA ROMADLON DENGAN JIMA’*

*KETENTUAN KAFAROT ‘UDHMA (DENDA BESAR) MEMBATALKAN PUASA ROMADLON DENGAN JIMA’* 

A. Tanggungan atas laki-laki yang bersetubuh adalah 5 halز
1. Qodlo’ puasa Romadlon untuk hari yang batal puasa sebab hubungan badan.
2. Kafarot ‘udhma (denda yang besar) secara segera (faur).
3. Ta’zir (hukuman yang berefek jera dari imam) bila tidak bertaubat.
4. Dosa,
5. Imsak (menahan diri dari makan, minum dan hal lain yang membatalkan puasa). (Al-Bajuri juz hal. 297 dan Busyrol Karim)
B. Tanggungan atas orang yang disetubuhi walaupun laki-laki adalah 4 hal/
1. Qodlo’ puasa Romadlon.
2. Dosa.
3. Imsak.
4. Ta’zir, karena kerusakan puasanya sebab kemasukan sebagian kepala penis pada alat kelaminnya sebelum terjadi hakikat persetubuhan sebab kemasukan seluruh hasyafah.
C. Isi kafarot ‘udhma yaitu: 
1. Memerdekakan  budak (‘itqu roqobah).
2. Kemudian berpuasa (shoum).
3. Kemudian memberikan makanan pokok (ith’am).
Kafarot ini bersifat tartib dalam permulaan dan akhiran.
D. Ketentuan kafarot udhma: 
1. Memerdekakan budak  laki-laki atau budak perempuan (amat) yang beriman serta selamat dari cacat yang membahayakan pada pekerjaan. Kemampuan i’taq roqobah diukur di waktu mukaffir menghendaki membayar kafarot, bukan di waktu jatuh wajib kafarot. Apabila tidak menemukan budak baik secara hissi atau syar’i  maka membayar kafarat yang kedua. 
2. Puasa 2 bulan Hijriyah (Hilaliyah) yang berurutan bila awal puasanya bertepatan dengan awal bulan. Bila tidak demikian, maka bulan yang awal disempurnakan 30 hari dari bulan ke 3. Kewajiban dalam niat puasa adalah niat puasa di malam hari (tabyit) dan niat kafarot, walaupun tidak menta’yin kafarotnya dan tidak niat tatabu’. Kemampuan puasa 2 bulan  diukur di waktu mukaffir menghendaki membayar kafarot, bukan di waktu jatuh wajib kafarot.  Apabila tidak mampu berpuasa 2 bulan berturut-turut karena keberatan (masyaqqoh) yang tidak mampu ditanggung secara adat walaupun sebab sangat hajat jima’ (ghulmah) maka membayar kafaraot yang ketiga.
3. Memberikan hak milik makanan pokok mentah  yang sah dibuat zakat fitrah (makanan pokok yang umum di negara mukaffir) sebesar 1 mud (679,79 Gr untuk beras putih, versi kitab Fathul Qodir) pada setiap orang 60 orang fakir atau miskin. Dalam memberikan makanan pokok ini wajib niat membayar kafarot.
E. Ketentuan pembagian ith’am kafarot (memberikan hak milik makanan pokok mentah sebagai kafarot):
1. Wajib diberikan pada 60 fakir atau miskin.
2. Tidak boleh diberikan pada keluarga mukaffir sendiri yang wajib dinafkahi seperti pembagian zakat dan kafarot lain bila kafarot dibayar oleh mukaffir sendiri.
3. Boleh diberikan pada mukaffir sendiri dan keluarganya bila tergolong fakir miskin bila kafarot dibayarkan oleh orang lain seizin mukaffir. (Al-Bajuri Juz 1 hal. 297 dan Itsmidul Ainain)
F. Mukaffir tidak mampu membayar kafarot  dari 3 macam tersebut, maka kafarot tetap berada dalam tanggungannya. 
1. Bila suatu saat ia mampu salah satu dari 3 hal itu, maka dia melaksanakannya.
2. Tidak ada pengaruh ketika mampu sebagian dari salah satu 3 macam kafarot kecuali it’am (memberi makanan pokok)  walaupun setengah mud dan sisanya dibayar setelah menjadi mampu. (Busyrol Karim)
G. Jumlah kafarot berlipat tergantung jumlah hari (takarrur yaum): 
1. Jika wathi’ (jima’) dalam 2 hari, maka wajib 2 kafarot.
2. Apabila jima’ dalam semua hari Romadlon, maka wajib kafarot sebanyak hari Bulan Romadlon, karena puasa tiap hari itu ibadah yang tersendiri (mustaqillah), maka kafarot tidak bisa saling memasuki (tadakhul), baik sudah membayar kafarot dari wathi’ (jima’) yang pertama atau belum. (Al-Bajuri Juz 1 hal. 296)
H. Kafarot tidak berlipat sebab kelipatan jima’ dalam satu hari.
Wajib satu kafarot walaupun berjima’ berulangkali dalam satu hari dan walaupun dengan 4 istri. (Al-Bajuri Juz 1 hal. 296)
I. Pengguguran kafarot. 
1. Kafarot tidak bisa gugur sebab rencana baru bepergian walaupun bepergian yang jauh, sakit, epilepsi, riddah dan jatuh miskin (i’sar) setelah wathi’. (Busyrol Karim)
2. Kafarot menjadi gugur sebab gila dan mati di pertengahan hari yang terjadi persetubuhan selama tidak membuat sebab dalam gila atau matinya. Jika membikin sebab gila dan mati, maka kafarot tidak bisa gugur. (Al-Bajuri Juz 1 hal. 296)
J. Orang lain membayar kafarot dari mukaffir itu boleh dengan syarat izin mukaffir. (Al-Bajuri juz 1hal. 297 dan Busyrol Karim)

Komentar

Postingan Populer