HARAM MEMBANGUN DAN RENOVASI GEREJADAN TEMPAT IBADAH KAUM KAFIR LAINNYA
HARAM MEMBANGUN DAN RENOVASI GEREJA
DAN TEMPAT IBADAH KAUM KAFIR LAINNYA
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : لاَ إِخْصَاءَ فِى الإِسْلاَمِ وَلاَ بُنْيَانَ كَنِيسَةٍ. (رواه البيهقى)
“Tidak ada pengebirian itu boleh dalam Islam dan tidak boleh ada pembangunan gereja (tempat ibadah orang kfir)”
( ولا بنيان كنيسة ) ونحوها من متعبدات اليهود أو النصارى وغيرهم من الكفار كبيعة أو صومعة (فيض القدير)
“Tidak boleh ada pembangunan gereja dan selainnya dari golongan tempat ibadah kaum yahudi, nashara dan lainnya dari golongan kaum kafir seperti klenteng dan pure”
لَا تُبْنَى كَنِيْسَةٌ فِي الْإِسْلَامِ وَلَا يُجَدَّدُ مَا خَرِبَ مِنْهَا (رواه ابن عدي عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه)
“Tidak boleh didirikan gereja di negeri Islam dan yang rusak tidak boleh diperbaharui” (HR. Ibnu Addi dari Umar bin al-Khaththab ra.)
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج : ( وَنَمْنَعُهُمْ ) وُجُوبًا ( إحْدَاثَ كَنِيسَةٍ ) وَبَيْعَةٍ وَصَوْمَعَةٍ لِلرُّهْبَانِ ، وَبَيْتِ نَارٍ لِلْمَجُوسِ ( فِي بَلَدٍ أَحْدَثْنَاهُ ) كَبَغْدَادَ وَالْكُوفَةِ وَالْبَصْرَةِ وَالْقَاهِرَةِ ،
“Jizyah (pajak) melarang kaum kafir membuat baru gereja, klenteng dan pure untuk para rahib (pendeta) dan rumah api untuk kaum kafir majusi di suatu negara yang kita kaum muslimin membangunnya seperti Baghdad, Kufah, Bashrah dan Kairo”
لِمَا رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ عَدِيٍّ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { لَا تُبْنَى كَنِيسَةٌ فِي الْإِسْلَامِ وَلَا يُجَدَّدُ مَا خَرَبَ مِنْهَا }
“Rasulullah saw. bersabda: Gereja tidak boleh dibangun dalam negara Islam dan gereja yang rusak tidak boleh direnovasi”
وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ لَمَّا صَالَحَ نَصَارَى الشَّامِ كَتَبَ إلَيْهِمْ كِتَابًا " أَنَّهُمْ لَا يَبْنُونَ فِي بِلَادِهِمْ وَلَا فِيمَا حَوْلَهَا دَيْرًا وَلَا كَنِيسَةً وَلَا صَوْمَعَةَ رَاهِبٍ " وَرَوَاهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَيْضًا
“Ketika Khalifah Umar berakad shuluh (damai) dengan kaum nashara Syuriah, maka beliau kirim surat pada mereka: Bahwasanya mereka tidak boleh membangun di semua wilayahnya dan sekitarnya rumah ibadah, gereja dan klenteng pendeta”
وَلِأَنَّ إحْدَاثَ ذَلِكَ مَعْصِيَةٌ ، فَلَا يَجُوزُ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ .
“Membangun gereja itu maksiat, maka tidak boleh terjadi di negara islam”
فَإِنْ بَنَوْا ذَلِكَ هُدِمَ ، سَوَاءٌ أَشُرِطَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ أَمْ لَا ، وَلَوْ عَاقَدَهُمْ الْإِمَامُ عَلَى التَّمَكُّنِ مِنْ إحْدَاثِهَا فَالْعَقْدُ بَاطِلٌ ( أَوْ ) بَلَدٍ ( أَسْلَمَ أَهْلُهُ عَلَيْهِ ) كَالْمَدِينَةِ الشَّرِيفَةِ وَالْيَمَنِ ، فَإِنَّهُمْ يُمْنَعُونَ أَيْضًا مِمَّا ذُكِرَ لِمَا مَرَّ .
“Apabila kaum kafir membangun gereja, maka dirobohkan, baik pembangunan gereja itu disyaratkan pada mereka atau tidak. Seandainya imam negara (pejabat pemerintah) membuat akad dengan kaum kafir untuk diperbolehkan membangun gereja, maka akad (perjanjian) itu batal. Tidak boleh membangun gereja di suatu negara yang penduduknya masuk Islam seperti Madinah dan Yaman”
نهاية المحتاج - (ج 17 / ص 280)
وَفِي سم عَلَى مَنْهَجٍ : فَرْعٌ : لَا يَصِحُّ اسْتِئْجَارُ ذِمِّيٍّ مُسْلِمًا لِبِنَاءِ كَنِيسَةٍ لِحُرْمَةِ بِنَائِهَا وَإِنْ أَقَرَّ عَلَيْهِ ، وَمَا فِي الزَّرْكَشِيّ مِمَّا يُخَالِفُ ذَلِكَ مَمْنُوعٌ أَوْ مَحْمُولٌ عَلَى كَنِيسَةٍ لِنُزُولِ الْمَارَّةِ ا هـ
“Tidak sah persewaan orang kafir dzimmi pada orang Islam untuk membangun gereja karena haram membangunnya”
بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع: ( وَأَمَّا ) الْكَنَائِسُ وَالْبِيَعُ الْقَدِيمَةُ فَلَا يُتَعَرَّضُ لَهَا وَلَا يُهْدَمُ شَيْءٌ مِنْهَا .
“Adapun gereja-geraja dan klenteng-klenteng lama (sebelum menjadi negara Islam) itu tidak diganggu dan tidak dirobohkan”
Komentar
Posting Komentar