*SEDEKAH KEBUN KORMA YANG MENJADIKAN FITNAH DALAM SHALAT*
المنتقى شرح الموطإ (1/ 180) :
مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ : «أَنَّ أَبَا طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيَّ كَانَ يُصَلِّي فِي حَائِطِهِ ، فَطَارَ دُبْسِيٌّ ، فَطَفِقَ يَتَرَدَّدُ يَلْتَمِسُ مَخْرَجًا ، فَأَعْجَبَهُ ذَلِكَ ، فَجَعَلَ يُتْبِعُهُ بَصَرَهُ سَاعَةً ، ثُمَّ رَجَعَ إلَى صَلَاتِهِ ، فَإِذَا هُوَ لَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى؟ فَقَالَ: لَقَدْ أَصَابَتْنِي فِي مَالِي هَذَا فِتْنَةٌ ، فَجَاءَ إلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَذَكَرَ لَهُ الَّذِي أَصَابَهُ فِي حَائِطِهِ مِنْ الْفِتْنَةِ ، وَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هُوَ صَدَقَةٌ لِلَّهِ فَضَعْهُ حَيْثُ شِئْتَ» .
“Sesungguhnya Abi Thalhah al-Anshary dulu ia shalat di kebun kormanya, kemudian seekor burung Dubsi terbang (masuk kebun), kemudian burung itu terbang kebingungan mengitari kebunnya seraya mencari celah jalan keluar (karena lebat pepohonan korma), kemudian keindahan burung itu membikin kagum pada Abu Thalhah. Ia mengikutkan pandangan matanya pada burung itu dalam sesaat, Kemudian beliau tersadar kembali pada (kekhusyuan) shalatnya, kemudian tiba-tiba beliau tidak mengetahui berapa rokaat telah melakukan shalat? Kemudian beliau bergumam sendiri: Benar-benar fitnah (ikhtibar/cobaan) telah memberikan musibah padaku dalam hartaku ini. Lantas beliau mendatangi kepada Rasulullah SAW. kemudian ia menyampaikan pada Nabi tentang musibah yang menimpanya dalam kebunnya berupa fitnah dan ia berkata: Wahai Rasulullah kebunku adalah sedekah karena Allah, maka letakkanlah (pergunakanlah) menurut kehendakmu”
(Tanwirul Hawalik Syarah al-Muwaththo’ juz:1 hal. 92)
Komentar
Posting Komentar