HAK-HAK ANAK ATAS ORANG TUANYA

HAK-HAK ANAK ATAS ORANG TUANYA

Hadits nabi :

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا. رواه أَبو دَاوُد وَغَيْره وَهُوَ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ حَدِيثٌ صَحِيحٌ.

“Perintanlah kalian semua (para wali) pada anak dengan shalat bila sudah mencapai usia 7 tahun (Hijriyah) dan bila telah mencapai usia 10 tahun (Hijriyah), maka pukullah ia ketika meninggalkan shalat”

Hadits nabi:

رَحِمَ اللَّهُ وَالِدًا أَعَانَ وَلَدَهُ عَلَى بِرِّه

”Semoga Allah mengasihi orang tua yang menolong anaknya untuk berbakti padanya” Orang tua tidak mendorong anaknya untuk durhaka sebab keburukan prilaku orang tua sendiri, orang tua memenuhi hak-hak anaknya, menyamakan dalam pemberian pada anak dan orang tua suka memaafkan kesalahan anaknya.

Hak-hak  anak atas orang tuanya:

Orang tua sunah mengaqiqohi anak laki-laki atau perempuan di usia 7 hari dari kelahiran.

Memberi nama pada anak (dengan nama yang baik).

Membersihkan kotoran dari tubuh anak dengan memandikan dan sunah mencukur rambutnya.

Tidak memberikan rizki pada anak kecuali rizki yang halal.

Mendidik anak bila sudah usia 6 tahun  Hijriyah.

Wajib melarang anak dari semua larangan dalam ushuluddin (aqidah ahlus sunnah) dan furu’uddin (syariah).

Wajib mengajari anak tentang :

Semua hal yang wajib diketahui oleh orang mukallaf agar iman anak tertanam dalam hatinya dan terbiasa dengan semua amal thoat pada Allah.

Semua kewajiban seperti thoharoh, shalat, puasa, zakat, haji dan semua syarat serta rukunnya dari golongan syariah yang dlohir.

Semua ibadah sunah seperti siwak dll. bila memungkinkan.

Semua (41) aqidah imaniyah tentang Allah, yaitu: 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil dan 1 sifat jaiz bagi Allah.

Semua (9) aqidah imaniyah tentang para rasul, yaitu: 4 sifat wajib, 4 sifat mustahil dan 1 sifat jaiz bagi para rasul.

Wajib salah satu orang tua walaupun seatasnya walaupun dari jalur ibu secara wajib kifayah memerintahkan (dengan ancaman atau tahdid  bila dibutuhkan) pada anak yang sudah tamyiz dengan shalat walaupun qadla’ dengan memenuhi semua syaratnya bila sudah sempurna umur 7 tahun Hijriyah.

Anak yang tamyiz (mumayyiz) adalah anak yang sudah bisa makan, minum dan istinjak sendiri.

Sebagaimana dua orang tua adalah orang yang menerima wasiat, orang yang menemukan anak, orang yang dititipi anak, orang yang meminjam anak, kemudian imam (pejabat pemerintah) dan kemudian shulaha’ muslimin (tokoh-tokoh muslim yang shalih).

Memisah tempat tidur anak bila sudah usia 9 tahun Hijriyah.

Wajib memukul anak dengan pukulan yang tidak membahayakan bila meninggalkan shalat, walaupun qadla’ atau meninggalkan satu syarat dari beberapa syarat shalat   bila anak sudah sempurna berusia 10 tahun (atau 13 tahun Hijriyah menurut hadits lain).

Wajib memerintahkan puasa Ramadlan pada anak bila anak sudah kuat berpuasa sebagaimana ibadah shalat.

Anak diperintahkan puasa bila sudah umur 7 tahun Hijriyah.

Anak dipukul bila meninggalakn puasa ketika sudah umur 10 tahun Hijriyah.

Hikmah memerintah ini adalah melatih (tamrin) pada anak untuk beribadah agar terbiasa, maka anak tidak akan meninggalkan ibadah.

Semua kewajiban pendidikan ini tidak selesei kecuali anak sudah baligh secara pintar (rasyid).

Biaya pendidikan anak tentang hukum syariah tersebut, belajar al-Qur’an dan ilmu adab itu berasal dari harta anak sendiri, kemudian dari harta ayahnya kemudian dari harta ibunya. (Referensi Fathul Muin dan Ianatut Thalibin juz I hal. 42-46)

Anak itu bagaikan parfum mulai bayi sampai usia 7 tahun, anak sebagai pelayan sejak usia 7 tahun kemudian anak itu bagaikan musuh atau teman sejati bagi orang tuanya. (Ihya’ Ulumiddin juz 2 hal. 217)

Memberi bekal anak tentang ketrampilan seperti berenang, memanah, menjahit dll.

Menikahkan anak bila anak sudah berusia 16 tahun (atau 17 tahun Hijriyah atau lebih bila sudah ada jodoh yang shalih/shalihah baginya atau sudah idrak).

Kemudian orang tua memegang tangan anaknya dan berkata:

 “Aku telah mendidikmu, mengajarimu dan menikahkanmu. Aku berlindung pada Allah dari fitnahmu di dunia dan siksamu di akhirat” (Referensi Ihya’ Ulumiddin) Atau:

 “Semoga Allah tidak menjadikan kamu fitnah atas diriku di dunia dan di akhirat”

فتح المعين - (ج 1 / ص 24)

(ويؤمر ) ذو صبا ذكر أو انثى ( مميز ) بأن صار يأكل ويشرب ويستنجي وحده  أي يجب على كل من أبويه وإن علا ثم الوصي  وعلى مالك الرقيق أن يأمر ( بها ) أي الصلاة ولو قضاء وبجميع شروطها ( لسبع ) أي بعد سبع من السنين أي عند تمامها وإن ميز قبلها  وينبغي مع صيغة الأمر التهديد  ( ويضرب ) ضربا غير مبرح وجوبا ممن ذكر ( عليها ) أي على تركها ولو قضاء أو ترك شرطا من شروطها ( لعشر ) أي بعد استكمالها للحديث الصحيح مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها  ( كصوم أطاقه ) فإنه يؤمر به لسبع ويضرب عليه لعشر كالصلاة  وحكمة ذلك التمرين على العبادة ليتعودها فلا يتركها وبحث الأذرعي في قن صغير كافر نطق بالشهادتين أنه يؤمر ندبا بالصلاة والصوم يحث عليهما من غير ضرب ليألف الخير بعد بلوغه وإن أبى القياس ذلك  انتهى  ويجب أيضا على من مر نهيه عن المحرمات وتعليمه الواجبات ونحوها من سائر الشرائع الظاهرة ولو سنة كسواك وأمره بذلك  ولا ينتهي وجوب ما مر على من مر إلا ببلوغه رشيدا وأجرة تعليمه ذلك كالقرآن والآداب في ماله ثم على أبيه ثم على أمه 

Singosari, 20 Maret 2022

Abdul Qahhar bin Hasan Rahmat bin Ibrahim

Komentar

Postingan Populer