𝙇𝙊𝙂𝙄𝙆𝘼 𝙋𝙍𝙀𝙈𝘼𝙏𝙐𝙍 𝙎𝙏𝘼𝙏𝙀𝙈𝙀𝙉𝙏 𝙆𝙃𝙄𝙇𝘼𝙁𝙄𝙔𝘼𝙃 𝙐𝘾𝘼𝙋𝘼𝙉 "𝙎𝙀𝙇𝘼𝙈𝘼𝙏 𝙉𝘼𝙏𝘼𝙇"
Radd yang bagus....
Monggo disimak, BAGI YANG MAU...
Saya copas dari akun منهاج الطالبين...
________
𝙇𝙊𝙂𝙄𝙆𝘼 𝙋𝙍𝙀𝙈𝘼𝙏𝙐𝙍 𝙎𝙏𝘼𝙏𝙀𝙈𝙀𝙉𝙏 𝙆𝙃𝙄𝙇𝘼𝙁𝙄𝙔𝘼𝙃 𝙐𝘾𝘼𝙋𝘼𝙉 "𝙎𝙀𝙇𝘼𝙈𝘼𝙏 𝙉𝘼𝙏𝘼𝙇"
Kontroversi "selamat natal" selalu menjadi perbincangan yang alot dan eksis sebagai agenda tahunan yang siap meramaikan beranda hingga notifikasi media, statement HARAM yang sudah sejak dulu clear dan disepakati seluruh kalangan dirombak dan dipelintir sebisa mungkin untuk dirumuskan sesuai hasrat menjadi KHILAF, Mubah, Sunnah bahkan Wajib. Apalagi disokong asumsi-asumsi janggal yang disuarakan ulama kontemporer yang kian memberikan ruang dan celah untuk mensukseskan liberalisme mereka lalu dipropagandakan secara massif. Berdalih statement Ulama ternama, Grand Syeikh dan yang semacamnya lalu urgensi validitas hukum Islam dan prosedur pengambilan juga pengamalan sebuah statement sengaja dikaburkan dan sementara waktu dilupakan. Padahal sebagaimana sudah tertuang dalam 𝘈𝘭-𝘑𝘢𝘮𝘪' 𝘈𝘴𝘴𝘩𝘰𝘨𝘩𝘪𝘳 dan 𝘚𝘢𝘣'𝘵𝘶 𝘒𝘶𝘵𝘶𝘣𝘪𝘯 𝘔𝘶𝘧𝘪𝘥𝘢𝘩, statement kontemporer perlu diakurasikan lebih dulu dengan referensi salaf sebelum diamalkan ataupun disebar luaskan.
Ada banyak sekali argumentasi ngaur dan analisis prematur yang akhir-akhir ini diekspos untuk mensukseskan propaganda legalisasi ucapan selamat natal, diantaranya sebagaimana berikut;
𝟭. 𝗞𝗹𝗮𝗶𝗺 𝗞𝗵𝗶𝗹𝗮𝗳𝗶𝘆𝗮𝗵 𝗗𝗶𝗸𝗮𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗱𝘇𝗵𝗮𝗯 𝗛𝗮𝗻𝗯𝗮𝗹𝗶
Klaim ini paling populer dan telah diekspos banyak kalangan, bertendensi pada kutipan redaksi Almardawi dalam karyanya 𝘈𝘭-𝘐𝘯𝘴𝘩𝘰𝘧
قوله (وفي تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم: روايتان) وأطلقهما في الهداية، ..إحداهما: يحرم. وهو المذهب. صححه في التصحيح. وجزم به في الوجيز، وقدمه في الفروع. والرواية الثانية: لا يحرم. فيكره. وقدمه في الرعاية، والحاويين، في باب الجنائز.
الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف للمرداوي الحنبلي، ٢٣٤/٤
Banyak kalangan dengan sangat gegabah berasumsi ucapan SELAMAT NATAL adalah kasus khilafiyah dan tidak layak dipersoalkan, padahal persepsi mereka masih terlalu dini dan cacat secara teoritis;
a. Redaksi Al-Mardawi diatas hanya menjelaskan hukum "mengucapkan selamat" tanpa menyinggung tujuan atau dalam rangka apa ungkapan itu diucapkan, bahkan sama sekali tidak menyinggung natal atau Syi'ar Non Muslim lainnya.
b. Ibnu Muflih Al-hanbali dalam 𝘈𝘭-𝘍𝘶𝘳𝘶' dengan tegas mengklaim keharaman meniru rutinitas non muslim saat selebrasi keagamaan mereka sebagai bentuk kesepakatan ulama madzhab Hanbali
وقال فيمن فعل كالكفار في عيدهم: اتفقوا على إنكاره, وأوجبوا عقوبة من يفعله, قال: والتعزير على شيء دليل على تحريمه.
الفروع وتصحيح الفروع لابن مفلح الحنبلي، ١٢٠/١٠
c. Ibnu Qoyyim Al-hanbali dalam 𝘈𝘩𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘈𝘩𝘭𝘪𝘥𝘻 𝘡𝘪𝘮𝘮𝘢𝘩 juga dengan eksplisit menyatakan keharaman ucapan selamat untuk selebrasi keagamaan sebagai kesepakatan ulama madzhab Hanbali
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم، فيقول: عيد مبارك عليك، أو تهنأ بهذا العيد ونحوه، فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات، وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب، بل ذلك أعظم إثماً عند الله، وأشد مقتاً من التهنئة بشرب الخمر، وقتل النفس، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه
احكام اهل الذمة لابن القيم الحنبلي ١\ ٤٤١
d. Riwayat kedua dalam Mazhab Hanbali berupa statement bolehnya mengucapkan selamat kepada non muslim, di-istinbat dari sejarah Rasulullah SAW menjenguk non muslim yg sakit, sehingga tidak benar jika redaksi Al-Insof diinterpretasikan sebagai ucapan selamat natal atau hal-hal keagamaan lainnya.
(وفي تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم روايتان) تهنئتهم وتعزيتهم تخرج على عيادتهم فيها روايتان (إحداهما) لا نعودهم لأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بداءتهم بالسلام وهذا في معناه (والثانية) تجوز لأن النبي صلى الله عليه وسلم أتى غلاما من اليهود كان مريضا يعوده فقعد عند رأسه
الشرح الكبير على متن المقنع لعبد الرحمن المقدسي الحنبلي، ٦١٧/١٠
e. Ibnu Taimiyah Al-Hanbali dalam 𝘈𝘭-𝘔𝘶𝘩𝘢𝘳𝘳𝘰𝘳 mengilustrasikan riwayat kedua dalam Madzhab Hanbali dengan momen duniawi seperti mendapatkan banyak harta atau banyak anak, bukan momentum keagamaan
وفي جواز تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم روايتان ويدعى لهم إذا أجزناها بالبقاء وكثرة المال والولد ويقصد به كثرة الجزية
المحرر في الفقه على مذهب الإمام أحمد بن حنبل لابن تيمية الحنبلي ,٢/١٨٥
f. Seluruh hal yg berkaitan dengan ritual ataupun selebrasi keagamaan non muslim dilarang diapresiasi dalam Mazhab Hanbali tanpa terkecuali.
(ويحرم شهود عيد اليهود والنصارى) وغيرهم من الكفار (وبيعه لهم فيه ... ومهاداتهم لعيدهم) لما في ذلك من تعظيمهم فيشبه بداءتهم بالسلام. (ويحرم بيعهم) وإجازتهم (ما يعملونه كنيسة أو تمثالا) أي: صنما (ونحوه) .. (و) يحرم (كل ما فيه تخصيص كعيدهم وتمييز لهم
كشاف القناع عن متن الإقناع للبهوتي الحنبلي، ١٣١/٣
g. Ibnu Qoyyim Al-hanbali dengan tegas mengklasifikasikan hukum ucapan SELAMAT kepada non muslim antara yang berkaitan dengan konteks keagamaan atau tidak
ولكن ليحذر الوقوع فيما يقع فيه الجهال من الألفاظ التي تدل على رضاه بدينه، كما يقول أحدهم: متعك الله بدينك أو نيحك فيه، أو يقول: أعزك الله أو أكرمك الله، إلا أن يقول: أكرمك الله بالإسلام وأعزك به ونحو ذلك. فهذا في التهنئة بالأمور المشتركة، وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق
احكام اهل الذمة لابن القيم الحنبلي ١\ ٤٤١
h. Dalam Madzhab Hanbali, Non Muslim dilarang keras dan wajib dicegah memeriahkan dan mempublikasikan selebrasi keagaman. Maka sangat mustahil jika dilarang dipublikasikan tapi legal diucapi selamat. Sebagaimana dikutip dalam kitab 𝘈𝘭-𝘐𝘯𝘴𝘩𝘰𝘧 sendiri.
قوله: ويمنعون من إظهار المنكر، وضرب الناقوس، والجهر بكتابهم. يعنى، يجب المنع. ويمنعون أيضا من إظهار عيد وصليب، ورفع صوت على ميت. قال الشيخ تقى الدين: ويمنعون من إظهار الأكل والشرب فى رمضان.
الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف للمردوي الحنبلي، ٤٦٤/١٠
Dari sini sudah sangat jelas bahwa tudingan terjadinya 𝘬𝘩𝘪𝘭𝘢𝘧𝘪𝘺𝘢𝘩 dalam kasus haramnya ucapan selamat natal sama sekali tidak memiliki tendensi yg valid apalagi bisa dirujuk dari referensi ulama salaf. Bahkan bisa dipastikan bahwa keharamannya sudah berada di level 𝘐𝘫𝘮𝘢', karena kata 𝘪𝘵𝘵𝘪𝘧𝘢𝘲 seringkali digunakan untuk mengungkapkan kasus yg telah di konsensus sebagaimana dikutip dalam 𝘛𝘢𝘣𝘴𝘪𝘳𝘰𝘵𝘶𝘭 𝘔𝘶𝘩𝘵𝘢𝘫. Imam Assubki dari kalangan Syafi'iyah juga berstatement bahwa asumsi apapun yg kontradiktif dengan Mazahibul Arba' setara dengan menentang 𝘐𝘫𝘮𝘢'
𝟮. 𝗦𝘁𝗮𝘁𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 𝗚𝗿𝗮𝗻𝗱 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗔𝗹-𝗔𝘇𝗵𝗮𝗿 𝗔𝗵𝗺𝗮𝗱 𝗧𝗵𝗮𝘆𝘆𝗲𝗯
Statement beliau melegalkan ucapan selamat natal didasarkan pada beberapa analisis, seperti analogi legalitas bersedekah, silaturahim dan menjenguk non muslim yg sakit, termasuk legalitas menikahi kafir kitaby yang menurut beliau sangat janggal jika bisa dinikahi namun tidak bisa diucapi selamat natal.
Dari sini sudah cukup jelas bahwa analisis beliau kurang benar, analogi kasus yg digunakan tidak bisa dijadikan 𝘔𝘢𝘲𝘪𝘺𝘴 𝘈𝘭𝘢𝘪𝘩 karena terdapat 𝘍𝘢𝘳𝘪𝘲𝘶𝘭 𝘏𝘶𝘬𝘮𝘪 antara keduanya. Silaturrahim, sedekah dan yg sejenisnya tidak termasuk 𝘚𝘺𝘪'𝘢𝘳𝘶𝘭 𝘒𝘶𝘧𝘧𝘢𝘳 sedangkan perayaan natal adalah selebrasi dan ritual keagamaan bahkan simbol agama paling vital dalam perbedaan Syare'at. Sebagaimana diungkapkan Ibnu Taimiyah ;
الأعياد هي من أخص ما تتميز به الشرائع، ومِنْ أظهر ما لها من الشعائر، فالموافقة فيها موافقة في أخص شرائع الكفر، وإظهار شعائره ،ولا ريب أن الموافقة في هذا قد تنتهي إلى الكفر في الجملة
شيخ الإسلام ابن تيمية/اقتضاء الصراط المستقيم ١/ـ٥٢٨
Sedangkan legalitas menikahi kafir kitabi yg dituding paradoks dengan keharaman ungkapan selamat natal sama sekali tidak argumentatif.
𝟯. 𝗦𝘁𝗮𝘁𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗔𝗹𝗶 𝗝𝘂𝗺'𝗮𝗵 𝗗𝗮𝗻 𝗢𝗿𝗴𝗮𝗻𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗞𝗶𝗯𝗮𝗿𝘂𝗹 𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗔𝗹-𝗔𝘇𝗵𝗮𝗿
Beliau dan juga organisasi Kibarul Ulama Al-Azhar sepakat dalam melegalisasi ucapan selamat natal dengan beberapa argumen:
a. Terdapat khilafiyah dalam Madzhab Hanbali; namun alasan ini sudah terbantahkan dan tidak tepat.
b. Analogi legalitas menghadiri jamuan Non Muslim sebagaimana dikutip dalam 𝘈𝘭-𝘍𝘢𝘵𝘢𝘸𝘢 𝘈𝘭𝘩𝘪𝘯𝘥𝘪𝘺𝘢𝘩; Analogi yg digunakan jelas berbeda, karena jamuan non muslim bukan simbol keagamaan.
c. Analogi ungkapan selamat panjang umur kepada non muslim sebagaimana dikutip dalam 𝘍𝘢𝘵𝘩𝘶𝘭 '𝘈𝘭𝘺 𝘈𝘭-𝘔𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘍𝘪 𝘍𝘢𝘵𝘢𝘸𝘢 𝘐𝘮𝘢𝘮 𝘔𝘢𝘭𝘪𝘬; Analoginya juga sudah jelas kurang tepat.
d. Analogi legalitas melayat, memberi hadiah dan menjenguk non muslim yang sakit.
𝟰. 𝗦𝘁𝗮𝘁𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗥𝗼𝗺𝗮𝗱𝗹𝗼𝗻 𝗔𝗹-𝗕𝘂𝘁𝗵𝘆
Statement beliau melegalisasi ucapan selamat natal disamakan dengan legalitas melayat non muslim sebagaimana sudah masyhur diasumsikan ulama-ulama salaf. Dan itu kurang tepat sebagaimana diatas.
𝟱. 𝗦𝘁𝗮𝘁𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 𝗛𝗮𝗯𝗶𝗯 𝗨𝗺𝗮𝗿 𝗕𝗶𝗻 𝗛𝗮𝗳𝗶𝗱𝘇
Ada Beberapa kalangan yg ikut mengklaim bahwa Habib Umar Bin Hafidz juga melegalisasi ucapan selamat natal dalam salah satu ceramah beliau, padahal pernyataan yang dimaksud adalah ungkapan selamat atas kebahagiaan berupa pernikahan yg dialami seorang non muslim dan yang semakna, bukannya hal yang berbentuk Syi'arul kuffar
𝟲. 𝗦𝘁𝗮𝘁𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 𝗛𝗮𝗯𝗶𝗯 𝗔𝗹𝗶 𝗔𝗹-𝗝𝘂𝗳𝗿𝗶
Statement beliau juga didasarkan pada klaim khilafiyah dalam Madzhab Hanbali.
Demikian sumbangsih analisis terhadap riuhnya kontroversi ungkapan selamat natal, semoga menjadi kontribusi Jam'iyyah Musyawarah Minhajut Tholibin untuk seluruh umat Islam.
Dibagikan Syeikh Abdul Qohar, 26 Desember 2021
Komentar
Posting Komentar