KHALIFAH BAGI KAUM MUSLIMIN
WAJIB MENDIRIKAN KHALIFAH
BAGI KAUM MUSLIMIN MENURUT ASWAJA
1. Nashbu imam a’dham (mendirikan imam negara yang agung) yang adil itu wajib atas umat Islam ketika tidak terdapat nash dari Allah atau rasul-Nya pada imam mu’ayyan (tertentu) dan tidak terdapat istikhlaf (mengangkat pengganti) dari imam sebelumnya.
2. Nadham Jauharatut Tauhid alal ahlus sunnah wal jama’ah:
وَوَاجِـبٌ نَصْـبُ إِمَامٍ عَدْلِ ......... بِالشَّرْعِ فَاعْلَمْ لَا بِحُكْمِ الْعَقْلِ
فَلَيْسَ رُكْنًا يُعْتَقَدْ فِي الدِّيْنِ ........ وَلَا تَـــزَغْ عَنْ أَمـْرِهِ الْمُــبِيْنِ
إِلَّا بِكُفْرٍ فَانْبِـذَنْ عَهْـدَهُ .......... فَـاللهُ يَكْـــفِيْنَا آذَاهُ وَحْــدَهُ
3. Tidak terdapat perbedaan dalam kewajiban nashbu imam antara zaman fitnah dan selainnya menurut madzhab Ahlus sunnah wal jama’ah dan aktsar mu’tazilah.
4. Menurut pendapat dlaif: wajib nashbu imam untuk menenangkan fitnah. Menurut pendapat dlaif lain: di selain zaman fitnah karena sudah menjadi zaman tha’at. Menurut pendapat dlaif lain: tidak nashbu imam wajib sama sekali.
5. Maksud syarat adil di bab imam adalah adil syahadah. Adil ini tidak bisa teralisasi kecuali dengan 5 syarat: (1) Islam, karena orang kafir tidak bisa menjaga maslahah kaum muslimin, (2) baligh, (3) berakal sehat, (4) hurriyyah (merdeka) dan (5) tidak fasik, karena orang fasik tidak bisa dipercaya dalam perintah dan larangannya.
6. Maksud sifat adil di sini adalah sifat adil dhahirah, maka tidak disyaratkan sifat adil bathinah.
7. Semua syarat imam ini berlaku dalam kondisi ibtida’ (permulaan memilih imam) dan kondisi ikhtiyar (tidak dlarurat). Adapun dalam kondisi dawam (abadi kekuasaan imam) tidak disyaratkan syarat-syarat ini.
8. Apabila seseorang berhasil taghallub (menguasai) khilafah secara qahru (paksa), maka jabatan khilafah menjadi sah baginya, walaupun ia tidak ahli menjadi khalifah seperti: (1) anak-anak, (2) wanita dan (3) orang fasik. Umat Islam wajib ta’at padanya dalam semua perintah dan larangannya laksana imam a’dham yang memenuhi semua syarat.
9. Kewajiban nashbu imam itu dengan dalil syara’ menurut ahlus sunnah wal jama’ah.
10. Sebagian dari unsur-unsur yang menunjukkan pada kewajiban nashbu imam dengan dalil syar’i adalah asy-Syari’ memerintahkan dengan: (1) mendirikan hudud, (2) saddi tsughur dan tajhiz juyusy. Hal ini tidak bisa sempurna kecuali dengan imam yang menjadi rujukan umat islam dalam semua urusan mereka.
11. Para sahabat nabi sepakat dengan kewajiban nashbu imam setelah wafat nabi dan para sahabat sibuk dengan nashbu imam serta menunda pemakaman nabi karena nabi wafat di hari Senin setelah zawal, kemudian jasad nabi diinapkan di hari itu dan malam Selasa dan jasad nabi baru dimakamkan di akhir malam Rabo.
12. Sahabat Abu Bakar berkata: “Suatu keharusan untuk menjaga urusan ini terdapat seorang imam atau khalifah yang mengurusinya, maka renungkanlah dan sampaikan semua pendapat kalian semua!” Para sahabat dari seluruh arah masjid menjawab: “Shadaqta, shadaqta” tidak terdapat seorang sahabat yang menjawab: “Tidak ada hajat bagi kita pada seorang imam”
13. Para sahabat muhajirin bermusyawarah dalam tema khilafah, kemudian mereka berkata pada Abu Bakar: “Berangkatlah bersama kita pada para saudara kita sahabat Anshar untuk bersama-sama bersama kita musyawarah dalam tema khilafah. Para sahabat Anshar berpendapat: “Minna amir wa minkum amir” Kemudian Umar bin al-Khaththab berkata: “Sahabat siapa yang menetap baginya menyerupai beberapa sifat utama yang dimiliki oleh Abu Bakar?” Kemudian Umar mengulurkan tangannya, kemudian membaiat pada Abu Bakar sebagai khalifah dan para sahabat yang lain juga berbaiat padanya.
14. Kemudian Khalifah Abu Bakar memerintahkan para sahabat untuk merawat janazah Rasulullah saw.
15. Nashbu imam bukan rukun yang wajib dii’tiqadi dalam beberapa qaidah agama yang mujma’ ‘alaih maklumah dengan tawatur seukuran menjadi kufur orang yang inkar seperti 2 kalimah syahadat, zakat, shalat, puasa Ramadlan dan haji karena nashbu imam tidak maklum dari dalil agama secara dlarurah, maka tidak kufur orang yang inkar nashbu imam.
16. Umat Islam jangan keluar dari patuh perintah dan larangan imam yang jelas-jelas sesuai dengan qaidah-qidah syariah. Wajib taat pada imam atas seluruh rakyat secara dhahir batin berdasarkan firman Allah QS. an-Nisa’ ayat 59 dan hadits nabi:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا أَطِيْعُوْا اللَّهَ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا. (سورة النساء: 59)
قال النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِيْ فَقَدْ أَطَاعَنِيْ ، وَمَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِيْ فَقَدْ عَصَانِيْ ، وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ . (الحاوى الكبير ـ الماوردى)
17. Imam negara tidak boleh ditaati dalam hal: (1) haram dan (2) makruh. Adapun perintah perkara mubah jika mengandung maslahah ‘ammah bagi kaum muslimin, maka wajib taat imam dalam perkara mubah tersebut dan jika tidak demikian, maka tidak wajib taat.
18. Apabila imam memerintahkan dengan kufur, maka buanglah baiat imam secara jahr (terang-terangan). Apabila tidak mampu secara jahr dengan membuang baiat imam, maka buanglah baiatnya secara sirri.
19. Allah ta’aalaa wahdah itu mencukupi kita atas penindasan imam yang memerintahkan dengan kufur karena Allah itu dzat yang maha qudrah atas ubun-ubun imam tersebut.
20. Dengan selain kufur ini dari golongan semua maksiat, tidak boleh khal’u (memakzulkan) imam dari imamah baik secara jahr atau sirri.
21. Imam tidak bisa dimakzulkan jika ia awal berkuasa (tawliyah) dalam kondisi sempurna semua syarat imam, kemudian menjadi hilang sifat imam tersebut, yaitu sifat ‘adalah (adil) sebab kemunculan sifat fasik (menurut ASWAJA), khilaf pendapat pada golongan yang memilih madzhab bahwa imam bisa dimakzulkan sebab hal tersebut. (Tuhfatul Murid Syarah Jauharatut Tauhid DKI h. 219-221)
22. Presiden RI dan alat-alat negara adalah waliyyul amri dharuri bisy syaukah (Penguasa Pemerintahan secara dharurat sebab kekuasaannya). (Ahkamul Fuqaha’ NU, keputusan muktamar NU ke-20 di Surabaya tahun 1954, h. 289-290)
1. إحياء علوم الدين للغزالي:
الأصل العاشر أنه لو تعذر وجود الورع والعلم فيمن يتصدى للإمامة وكان في صرفه إثارة فتنة لا تطاق حكمنا بانعقاد إمامته، لأنا بين أن نحرك فتنة بالاستبدال، فما يلقى المسلمون فيه من الضرر يزيد على ما يفوتهم من نقصان هذه الشروط التي أثبتت لمزية المصلحة فلا يهدم أصل المصلحة شغفاً بمزاياها كالذي يبني قصراً ويهدم مصراً وبين أن نحكم بخلو البلاد عن الإمام وبفساد الأقضية وذلك محال. ونحن نقضي بنفوذ قضاء أهل البغي في بلادهم لمسيس حاجتهم فكيف لا نقضي بصحة الإمامة عند الحاجة والضرورة
2. كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار:
قال الغزالي: واجتماع هذه الشروط متعذر في عصرنا لخلو العصر عن المجتهد المستقل، فالوجه تنفيذ قضاء كل من ولاه سلطان ذو شوكة، وإن كان جاهلاً أو فاسقاً لئلا تتعطل مصالح المسلمين. قال الرافعي: وهذا أحسن.
Komentar
Posting Komentar