AKAD HUTANG YANG RUSAK DAN HARAM KARENA RIBA DALAM SHULBI AQDI DAN JUAL BELI MU'ATHAH
AKAD HUTANG YANG RUSAK DAN HARAM KARENA RIBA DALAM SHULBI AQDI DAN JUAL BELI MU'ATHAH
1. Bughyah al-Mustarsyidin h. 135:
ﺇِﺫِ ﺍْﻟﻘَﺮْﺽُ ﺍﻟﻔَﺎﺳِﺪُ ﺍﻟﻤُﺤَﺮَّﻡُ ﻫُﻮَ ﺍْﻟﻘَﺮْﺽُ ﺍﻟْﻤَﺸْﺮُﻭْﻁُ ﻓِﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﻔْﻊُ ﻟِﻠْﻤُﻘْﺮِﺽِ، ﻫَﺬَﺍ ﺍِﻥْ ﻭَﻗَﻊَ ﻓِﻲ ﺻُﻠْﺐِ ﺍﻟْﻌَﻘْﺪِ، ﻓَﺎِﻥْ ﺗَﻮَﺍﻃَﺄَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻗَﺒْﻠَﻪُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺬْﻛُﺮْ ﻓِﻲ ﺻُﻠْﺒِﻪِ ﺃَﻭْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻋَﻘْﺪٌ ﺟَﺎﺯَ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻜَﺮَﺍﻫَﺔِ ﻛَﺴَﺎﺋِﺮِ ﺣِﻴَﻞِ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺍﻟْﻮَﺍﻗِﻌَﺔِ ﻟِﻐَﻴْﺮِ ﻏَﺮَﺽٍ ﺷَﺮْﻋِﻲٍّ .
"Aqad utang piutang yang fasid (rusak) yang haram / qardlu fasid muharram ialah menghutangi dengan janji pihak yang menghutangi / muqridl mendapat keuntungan/manfaat, hal ini (haram) bila syarat tersebut masuk (ikut) dalam isi transaksi / shulbi aqdi, jika syarat mendapat keuntungan / naf'u itu berketepatan / tawathu' di waktu sebelum terjadi transaksi dan waktu transaksi tidak menyebutkan janji keuntungan / manfaat bagi yang menghutangi, atau sama sekali tidak ada transaksi / 'adamul aqdi /mu'athah, maka hukumnya boleh disertai makruh / jaiz ma'al karahah seperti makruh segala rekayasa riba / hilah riba yang terjadi untuk selain tujuan syar'i"
3. I’anah al-Thalibin, juz III, Hlm. 20:
( ﻭَﻣِﻨْﻪُ ﺭِﺑَﺎ ﺍﻟْﻘَﺮْﺽِ ) ﺃَﻱْ ﻭَﻣِﻦْ ﺭِﺑَﺎ ﺍﻟْﻔَﻀْﻞِ : ﺭِﺑَﺎ ﺍْﻟﻘَﺮْﺽِ، ﻭَﻫُﻮَ ﻛُﻞُّ ﻗَﺮْﺽٍ ﺟَﺮَّ ﻧَﻔْﻌًﺎ ﻟِﻠْﻤُﻘْﺮِﺽِ ﻏَﻴْﺮَ ﻧَﺤْﻮِ ﺭَﻫْﻦٍ . ﻟَﻜِﻦْ ﻟَﺎ ﻳَﺤْﺮُﻡُ ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷُﺮِﻁَ ﻓِﻲ ﻋَﻘﺪِﻩِ.
"(Diantara riba ialah riba qordli), termasuk bagian dari riba fadli / kelebihan ialah riba qordli / akad hutang, yaitu setiap menghutangi yang menarik untung/manfaat bagi pihak yang menghutangi / muqridl, selain semisal aqad gadai / rahnu, hal itu tidak haram menurut kita (Syafi'iyyah) kecuali jika keuntungan / riba itu diucapkan/disyaratkan di dalam transaksinya (maka hukumnya haram)"
4. Al-Bajuri, juz I Hlm. 357:
ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻫُﻨَﺎﻙَ ﻋَﻘْﺪٌ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮْ ﺑَﺎﻉَ ﻣُﻌَﺎﻃَﺎﺓً ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻮَﺍﻗِﻊُ ﻓِﻲ ﺃَﻳَّﺎﻣِﻨَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺭِﺑًﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺣَﺮَﺍﻣًﺎ ﻟَﻜِﻦْ ﺃَﻗَﻞَّ ﻣِﻦْ ﺣُﺮْﻣَﺔِ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ . ﺍﻫـ.
"Jika di sana (dalam syarat manfaat) tidak terjadi aqad (transaksi) seperti pada waktu jual beli dengan sistem BAI' MU'ATHAH (jual beli dengan kesepakatan barang dan harga tanpa ijab qabul), seperti yang terjadi saat ini, itu bukan riba, walaupun tetap haram tapi haramnya lebih sedikit dari pada keharaman riba"
5. Fatawi al-Kubro li Ibni Hajar, juz III, Hlm. 23:
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺻَﺮَّﺡَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺄَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺃَﻥَّ ﻛُﻞَّ ﻣَﺎ ﺃَﺑْﻄَﻞَ ﺷَﺮْﻃُﻪُ ﺍﻟْﻌَﻘْﺪَ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّ ﺇِﺿْﻤَﺎﺭُ ﻧِﻴَّﺔٍ ﻓِﻴْﻪِ، ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣَﻊَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺈِﺿْﻤَﺎﺭِ ﻫَﻞْ ﻳَﺤِﻞُّ ﺑَﺎﻃِﻨًﺎ ؟ ﻭَﺟْﻬَﺎﻥِ ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﺃَﺻَﺤُّﻬُﻤَﺎ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﻳَﺤِﻞُّ ﻟِﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻋَﺎﻣِﻞِ ﺧَﻴْﺒَﺮَ .
"Pendapat yang telah dijelaskan oleh ulama' ashhab imam Syafi’i: bahwa setiap suatu syarat yang dapat membatalkan aqad (transaksi) itu tidak bahaya menyimpan niat dalam hati tentang syarat tersebut (tidak disebutkan dalam aqad). Shohibu al-Kafi menjelaskan jika hal itu terjadi (menyembunyikan syarat dalam hati) apakah transaksinya secara batin dianggap halal? Dalam jawabnya ada dua pendapat: (1) ia berpendapat: pendapat yang paling shohih / ashah adalah halal dengan dasar hadits tentang pengelola tanah (Nabi) di daerah Khoibar" (2) pendapat dlaif: haram.
Komentar
Posting Komentar